PANDEGLANG, iNewsPandeglang.id – Gelombang panas ekstrem tengah melanda berbagai belahan dunia. Setelah Eropa dihantam suhu tinggi berkepanjangan dalam beberapa pekan terakhir, kini giliran Kanada dan Amerika Serikat yang menghadapi lonjakan suhu hingga berpotensi memecahkan rekor bagi jutaan penduduknya pekan ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem di Eropa sejak Juni.
Indonesia pun tak luput dari ancaman serupa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026, diawali dari Nusa Tenggara dan menyebar bertahap ke wilayah lainnya. Awal kemarau di hampir separuh wilayah (46,5 persen zona musim) diprediksi datang lebih awal dari normalnya, dengan akumulasi curah hujan di 64,5 persen zona musim berada pada kategori bawah normal alias lebih kering dari biasanya. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Menurut BMKG, cuaca panas yang dirasakan belakangan ini umumnya disebabkan minimnya tutupan awan sehingga sinar matahari langsung menyengat. Kondisi ini diperburuk dominasi massa udara kering, pemanasan global, serta kelembapan tinggi yang membuat suhu terasa jauh lebih panas dari angka sebenarnya.
Daya Tahan Tubuh Jadi Kunci
Dikutip dari iNews.id, Dokter Spesialis Anak dr. Kanya Ayu, Sp.A mengingatkan, meski jenis penyakit di Indonesia cenderung sama sepanjang tahun, panas ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih rentan terserang infeksi seperti flu, pneumonia, hingga diare.
Kunci utamanya, kata dia, adalah menjaga pola hidup bersih dan sehat secara konsisten. Langkah sederhana seperti rutin mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan makanan yang dikonsumsi bersih dan bergizi sangat berpengaruh terhadap kekebalan tubuh, termasuk pada anak-anak.
Editor : Iskandar Nasution
Artikel Terkait
