Warisan Puluhan Triliun untuk 4 Anak, Pengusaha Ini Tercatat dalam Pengalihan Kekayaan Terbesar Asia
Tidak hanya Djarum dan BCA
Nama Michael Bambang Hartono juga tidak hanya dikenal di dunia bisnis.
Ia merupakan salah satu sosok yang aktif dalam olahraga, khususnya bridge. Pada Asian Games 2018, Michael bahkan meraih medali perunggu cabang olahraga bridge pada usia 78 tahun.
Kecintaannya terhadap olahraga juga terlihat dari keterlibatan keluarga Hartono dalam pembinaan bulu tangkis melalui PB Djarum.
Di luar Indonesia, keluarga Hartono juga memiliki keterkaitan dengan sepak bola Italia. Pada 2019, Grup Djarum mengambil alih Como 1907 ketika klub tersebut masih berada di kasta bawah sepak bola Italia. Dalam beberapa tahun berikutnya, Como berkembang hingga berhasil kembali ke Serie A pada 2024.
Hal tersebut membuat Michael memiliki jejak yang cukup luas. Ia bukan hanya dikenal sebagai pengusaha di balik Djarum dan BCA, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki perhatian terhadap olahraga.
Warisan Rp52 triliun dan generasi berikutnya
Kini, sebagian kepemilikan Michael Bambang Hartono telah berpindah kepada empat anaknya.
Jika nilai sekitar Rp52 triliun per orang digunakan sebagai gambaran sederhana, jumlah tersebut memang sulit dibayangkan. Misalnya, apabila Rp52 triliun benar-benar berupa uang tunai dan dibelanjakan Rp100 juta setiap hari tanpa memperhitungkan bunga maupun inflasi, uang tersebut secara matematis baru akan habis dalam sekitar 1.430 tahun.
Namun, kondisi sebenarnya tentu berbeda. Kekayaan yang diwariskan berupa kepemilikan saham dan aset perusahaan, bukan sekadar uang yang tersimpan dalam rekening.
Peralihan tersebut pada akhirnya bukan hanya soal besarnya angka warisan. Lebih dari itu, proses ini menandai perpindahan sebagian kepemilikan kerajaan bisnis keluarga Hartono kepada generasi berikutnya.
Michael Bambang Hartono telah meninggalkan jejak panjang selama puluhan tahun, mulai dari bisnis keluarga di Kudus hingga kepemilikan di salah satu bank terbesar Indonesia. Kini, tantangan berikutnya berada di tangan generasi penerus: bagaimana mempertahankan dan mengembangkan bisnis yang telah dibangun keluarga Hartono selama beberapa dekade.
Editor : Iskandar Nasution