get app
inews
Aa Text
Read Next : Gagal Gulingkan Khamenei? Israel Ngaku Fokus Hancurkan Nuklir Iran

Bendera Palestina Berkibar di Piala Dunia 2026, Tapi Gaza Kian Terlupakan Karena Konflik Iran-Israel

Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:09 WIB
header img
Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, membentangkan bendera Palestina di lapangan usai timnya menaklukan Australia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Amerika Serikat (Foto: Istimewa)

Ironisnya, ketidakpedulian dunia terhadap wilayah Palestina justru terjadi ketika kawasan itu menjadi titik awal dari rangkaian peristiwa yang menyeret Timur Tengah ke dalam konfrontasi paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 memicu operasi militer besar-besaran di Gaza. Konflik kemudian meluas dengan keterlibatan sekutu-sekutu Teheran, seperti milisi Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman, hingga akhirnya melibatkan Iran secara langsung. Perang yang semula bersifat lokal antara Israel dan Hamas pun bereskalasi menjadi konflik regional, lalu berujung pada konfrontasi terbuka antara dua musuh bebuyutan: Iran dan Amerika Serikat.

Kini, meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah tercapai pada Oktober 2025, upaya untuk benar-benar mengakhiri perang mandek selama berbulan-bulan. Bagi sejumlah analis, kebuntuan ini mencerminkan bergesernya prioritas di kawasan.

"Hal ini mencerminkan penurunan nilai strategis Hamas di mata Iran," kata Hugh Lovatt dari Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri kepada AFP. Fokus diplomasi internasional pun ikut berpindah, seiring kelelahan dunia terhadap isu Gaza yang berlarut-larut. "Gaza secara bertahap memudar dari perhatian internasional," ujar Lovatt.

Dampak paling berat tetap ditanggung warga sipil. Situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat buruk, bahkan di banyak wilayah kembali memburuk. Kelangkaan pasokan, lonjakan harga kebutuhan pokok, dan infrastruktur yang porak-poranda telah menjadi bagian dari keseharian warga. Pakar studi Islam dari Universitas Ibrani Yerusalem, Simon Wolfgang Fuchs, menggambarkan kondisi ini sebagai "spiral ke bawah". Menurutnya, bahkan ketika bantuan berhasil masuk, ketidakpastian tetap tinggi. Trauma kekurangan pada masa lalu, terutama kelaparan yang melanda pada 2025, masih membekas dan memperkuat rasa terancam yang terus menghantui warga.

Editor : Iskandar Nasution

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut