Bendera Palestina Berkibar di Piala Dunia 2026, Tapi Gaza Kian Terlupakan Karena Konflik Iran-Israel
JAKARTA, iNewsPandeglang.id - Bendera Palestina berulang kali berkibar di ajang Piala Dunia 2026. Sejumlah tim menjadikannya simbol solidaritas dalam momen kemenangan, termasuk Mesir yang secara terbuka mempersembahkan kemenangannya untuk Palestina. Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, membentangkan bendera Palestina di lapangan usai timnya menaklukkan Australia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Amerika Serikat pada Jumat (3/7/2026).
Namun di balik gemuruh dukungan di lapangan hijau, kondisi nyata di Gaza justru semakin jauh dari sorotan dunia. Palestina semakin terpinggirkan sejak konfrontasi bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meletus.
Warga Palestina di Gaza kini mengeluhkan nasib mereka yang seolah menghilang dari agenda internasional. Perang yang telah menghancurkan wilayah itu selama lebih dari dua setengah tahun tak lagi menjadi perhatian utama dunia.
"Sejak Amerika Serikat berperang dengan Iran, seluruh dunia telah melupakan Gaza dan tragedinya. Kami tidak lagi memiliki siapa pun yang membela kami," kata Ahmed Jamali, 53 tahun, seorang warga Palestina yang tinggal di kamp pengungsian di Gaza.
"Kami lemah dan tertindas, dan Israel melakukan apa pun yang diinginkannya: membunuh, menghancurkan, dan menduduki Gaza, sementara tidak ada seorang pun di dunia yang berbuat apa pun," cetusnya, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/7/2026).
Ironisnya, ketidakpedulian dunia terhadap wilayah Palestina justru terjadi ketika kawasan itu menjadi titik awal dari rangkaian peristiwa yang menyeret Timur Tengah ke dalam konfrontasi paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 memicu operasi militer besar-besaran di Gaza. Konflik kemudian meluas dengan keterlibatan sekutu-sekutu Teheran, seperti milisi Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman, hingga akhirnya melibatkan Iran secara langsung. Perang yang semula bersifat lokal antara Israel dan Hamas pun bereskalasi menjadi konflik regional, lalu berujung pada konfrontasi terbuka antara dua musuh bebuyutan: Iran dan Amerika Serikat.
Kini, meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah tercapai pada Oktober 2025, upaya untuk benar-benar mengakhiri perang mandek selama berbulan-bulan. Bagi sejumlah analis, kebuntuan ini mencerminkan bergesernya prioritas di kawasan.
"Hal ini mencerminkan penurunan nilai strategis Hamas di mata Iran," kata Hugh Lovatt dari Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri kepada AFP. Fokus diplomasi internasional pun ikut berpindah, seiring kelelahan dunia terhadap isu Gaza yang berlarut-larut. "Gaza secara bertahap memudar dari perhatian internasional," ujar Lovatt.
Dampak paling berat tetap ditanggung warga sipil. Situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat buruk, bahkan di banyak wilayah kembali memburuk. Kelangkaan pasokan, lonjakan harga kebutuhan pokok, dan infrastruktur yang porak-poranda telah menjadi bagian dari keseharian warga. Pakar studi Islam dari Universitas Ibrani Yerusalem, Simon Wolfgang Fuchs, menggambarkan kondisi ini sebagai "spiral ke bawah". Menurutnya, bahkan ketika bantuan berhasil masuk, ketidakpastian tetap tinggi. Trauma kekurangan pada masa lalu, terutama kelaparan yang melanda pada 2025, masih membekas dan memperkuat rasa terancam yang terus menghantui warga.
Sementara itu, situasi politik internal di Gaza sulit dinilai dari luar. Sejumlah laporan mengindikasikan kritik terhadap Hamas di wilayah kekuasaannya masih dibungkam secara keras, sehingga penilaian yang akurat sukar dilakukan. Di sisi lain, warga Palestina juga terus dibayangi kekhawatiran akan kemungkinan pengusiran permanen oleh Israel.
Pakar Israel dan Timur Tengah dari Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP) Berlin, Peter Lintl, menggambarkan situasi tersebut dengan hati-hati. "Saat ini semuanya tampak berputar," katanya, dikutip dari DW, namun hanya berputar di tempat. Isu-isu krusial seperti pelucutan senjata Hamas, pemerintahan masa depan Gaza, dan penarikan pasukan Israel tak kunjung terselesaikan selama berbulan-bulan. Belum ada pula mekanisme efektif untuk menegakkan kesepakatan, sekalipun kesepakatan itu nantinya tercapai.
Pandangan senada disampaikan Fuchs. Menurutnya, perundingan tidak menunjukkan kemajuan berarti, tenggat waktu terus terlewati, dan kesan stagnasi diplomatik semakin menguat. Dinamika yang berkembang saat ini, kata dia, lebih didominasi oleh ketidakpercayaan antarpihak ketimbang upaya sungguh-sungguh untuk mendekatkan posisi.
Di tengah kebuntuan itu, kibaran bendera Palestina di stadion-stadion Piala Dunia 2026 menjadi pengingat: dunia boleh berpaling, tetapi tragedi Gaza belum usai.
Editor : Iskandar Nasution