Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Gunung Anak Krakatau Masih Level III Siaga, Asap Kawah Terpantau 50 Meter
Advertisement . Scroll to see content

Mengenal Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Alasan Bahayanya bagi Kesehatan

Senin, 07 September 2026 | 13:56 WIB
  • author Dodi C.A
Mengenal Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Alasan Bahayanya bagi Kesehatan
Erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang dapat berdampak terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat. (Foto: Ilustrasi AI)

PANDEGLANG, iNewsPandeglang.id Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah aktivitas vulkaniknya menghasilkan sebaran abu yang meluas ke sejumlah wilayah. Abu vulkanik tidak hanya menjadi gangguan bagi masyarakat di sekitar gunung, tetapi juga dapat berdampak terhadap kesehatan, penerbangan, lingkungan hingga aktivitas ekonomi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pada ketinggian tertentu, abu tersebut bergerak mengikuti arah angin dan dapat mencapai wilayah yang jauh dari pusat erupsi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bahaya erupsi tidak selalu terbatas di sekitar gunung. Partikel abu yang berukuran sangat kecil dapat terbawa angin dalam jarak yang jauh dan mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Apa Itu Abu Vulkanik?

Abu vulkanik merupakan material berbutir sangat halus yang dihasilkan dari aktivitas erupsi gunung api. Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik memiliki ukuran kurang dari 2 milimeter dan dapat berasal dari pecahan magma maupun batuan yang hancur akibat tekanan letusan.

Karena ukurannya sangat kecil dan ringan, abu vulkanik dapat terbawa oleh angin dalam jarak yang sangat jauh. USGS menyebut abu berukuran kecil dapat terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dan mengganggu masyarakat maupun lahan pertanian yang berada jauh dari gunung api.

Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik juga memiliki sifat abrasif karena tersusun dari pecahan batuan dan material vulkanik. Karena itu, keberadaannya dapat mengganggu kesehatan manusia sekaligus merusak sejumlah peralatan dan infrastruktur.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya?

1. Mengganggu Saluran Pernapasan

Partikel abu vulkanik yang sangat kecil dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat memicu batuk, iritasi pada hidung dan tenggorokan hingga memperburuk penyakit pernapasan yang sudah dimiliki seseorang.

USGS menjelaskan, sebagian partikel abu berukuran kurang dari 10 mikron sehingga dapat terhirup lebih dalam ke paru-paru. Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, lansia serta orang yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis kronis.

Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan bagian atas. Menurut USGS, gangguan kesehatan yang paling umum setelah paparan abu adalah iritasi mata dan saluran pernapasan serta memburuknya penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya.

2. Mengiritasi Mata dan Kulit

Abu vulkanik memiliki permukaan yang kasar sehingga dapat menyebabkan iritasi ketika mengenai mata atau kulit. Mata dapat mengalami kemerahan, perih dan rasa tidak nyaman.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan menggunakan kacamata pelindung dan pakaian yang menutupi kulit. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga merekomendasikan penggunaan pelindung mata serta pakaian tertutup ketika menghadapi paparan abu vulkanik.

3. Membahayakan Penerbangan

Bahaya abu vulkanik tidak hanya dirasakan masyarakat di darat. Partikel abu yang masuk ke jalur penerbangan dapat mengganggu keselamatan pesawat karena dapat merusak atau mengganggu mesin pesawat.

Dalam perkembangan terbaru, BMKG menyebut sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berdampak langsung terhadap operasional delapan bandar udara di Pulau Jawa dan Sumatra. Hingga Senin (7/9/2026) pagi, sejumlah bandara ditutup sementara sebagai langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan penerbangan.

BMKG juga mencatat telah menerbitkan 39 Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama pada 4 September 2026. SIGMET merupakan informasi penting terkait kondisi meteorologi yang dapat membahayakan penerbangan.

Editor: Iskandar Nasution

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut