get app
inews
Aa Text
Read Next : Terungkap! Kejagung Gerebek Kantor Ditjen Migas, Ada Mafia di Balik Kelangkaan Gas?

Fakta atau Hoaks? Isu Pertamax Oplosan Ramai Dibahas, Ini Bukti Sebenarnya!

Kamis, 27 Februari 2025 | 12:21 WIB
header img
Petugas SPBU Pertamina melayani pengisian BBM untuk pengendara motor. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNewsPandeglang.id Isu pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax membuat masyarakat resah. Banyak yang mempertanyakan, apakah benar Pertamax yang dijual di SPBU sudah dicampur dengan bahan lain? Atau ini hanya kabar bohong yang sengaja dibuat?

Menanggapi hal ini, Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa kualitas Pertamax tetap terjaga sesuai spesifikasi yang ditetapkan pemerintah. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, memastikan bahwa Pertamax yang diterima di terminal BBM sudah dalam bentuk produk jadi dengan Research Octane Number (RON) 92 yang sesuai standar.

Heppy menegaskan bahwa di terminal BBM, hanya dilakukan penambahan pewarna dan aditif untuk meningkatkan performa bahan bakar, tanpa adanya pengoplosan atau perubahan RON. "Masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas Pertamax," ujarnya, Rabu (26/2/2025).

Pertamina Patra Niaga juga menegaskan bahwa distribusi BBM diawasi ketat oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Hal ini untuk memastikan kualitas tetap sesuai standar hingga sampai ke konsumen.

Namun, di tengah klarifikasi ini, isu pengoplosan Pertamax justru makin ramai. Kejaksaan Agung mengungkap dugaan praktik pengoplosan yang dilakukan oleh oknum di Pertamina. Modusnya, Pertamax dicampur dengan bahan bakar lain untuk mendapatkan keuntungan lebih.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Dirdik Jampidsus) Kejagung, Abdul Qohar, mengungkap bahwa ada praktik pengoplosan BBM dalam kasus korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina (Persero) periode 2018-2023.

Kejagung bahkan telah menetapkan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, sebagai tersangka. Ia diduga membeli Pertalite (RON 90) dan mencampurnya agar menyerupai Pertamax (RON 92) sebelum dijual ke pasar.

Abdul Qohar mengungkapkan bahwa modus yang digunakan dalam kasus ini adalah membeli BBM dengan RON 90, tetapi dibayar seolah-olah memiliki RON 92. "Kemudian, diblending, dioplos, dicampur," jelasnya di Kejagung, Jakarta Selatan, Selasa (25/2/2025).

Editor : Iskandar Nasution

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut