Beda dengan Indonesia, 36 Ribu Guru Singapura Nikmati Kenaikan Gaji Besar

Dodi C.A
Aktivitas belajar mengajar di sekolah. Pemerintah Singapura mengumumkan kenaikan gaji bagi sekitar 36 ribu tenaga pendidik mulai Oktober 2026. (Foto: Ilustrasi/AI)

Realitas Pahit Guru di Tanah Air

Pemandangan ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan kondisi sejahtera para pendidik di Indonesia. Di tanah air, potret miris nasib guru seolah menjadi wacana klasik yang tak kunjung usai. Meski anggaran pendidikan di APBN dialokasikan sebesar 20 persen, ketimpangan kesejahteraan guru, terutama status honorer dan swasta di daerah terpencil yang masih sangat memprihatinkan.

Tidak sedikit guru di Indonesia yang harus mengabdi belasan hingga puluhan tahun namun tetap menerima honor jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak dari mereka yang terpaksa melakoni pekerjaan sampingan, mulai dari menjadi pengemudi ojek online, berjualan makanan, hingga buruh tani.

Publik Indonesia pada umumnya mempertanyakan, bagaimana mungkin kita menuntut guru melahirkan anak didik yang cerdas dan berkarakter, jika pikiran mereka setiap hari masih terbebani oleh urusan beras dan dapur yang belum ngebul?

Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang lebar dalam dunia pendidikan regional. Singapura memandang investasi pada gaji guru sebagai strategi pembangunan jangka panjang. Sementara itu, Indonesia masih terjebak dalam masalah krusial terkait distribusi anggaran, birokrasi penataan status ketenagakerjaan, serta pengakuan finansial yang layak bagi para pahlawan tanpa tanda jasa.

Pemerintah Indonesia Harus Berkaca dari Pemerintah Singapura

Langkah berani Singapura seharusnya menjadi sentilan keras sekaligus bahan evaluasi mendalam bagi pemerintah Indonesia. Kualitas pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah bisa melampaui kualitas dan kesejahteraan para gurunya.

Jika Indonesia serius ingin mewujudkan visi Indonesia Emas, reformasi kesejahteraan guru harus dijadikan prioritas utama, bukan sekadar janji manis di atas kertas. Tanpa jaminan hidup yang layak, profesi guru di Indonesia akan terus dibayangi ketidakpastian, sementara negara tetangga semakin melaju pesat meninggalkan kita.

Editor : Iskandar Nasution

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network