“Setiap kali saya menulis tentang JLS (Jalan Lingkar Selatan), selalu ada yang bilang jangan bawa-bawa nama Cilegon,” tambahnya.
Buku No LC No Party mengungkap fakta bahwa di Cilegon, keberadaan LC (Ladies Companion) tidak hanya sebagai pemandu lagu, tetapi juga memiliki peran lain yang lebih kompleks. “LC di sini bukan cuma pemandu lagu,” sindirnya.
Mang Pram juga menyinggung realitas miris bahwa jumlah kamar untuk LC di Cilegon jauh lebih banyak dibandingkan kamar santri. “Kamar santri kalah banyak dibanding kamar LC di Cilegon,” ungkapnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bagaimana aplikasi seperti MiChat membuat praktik prostitusi semakin sulit terdeteksi. “Saya habis Rp900 ribu buat riset di MiChat,” candanya.
Ketua PWI Cilegon, Ahmad Fauzi Chan, menyebut Mang Pram sebagai sosok jurnalis yang unik dan berani. “Kritik sosial itu penting di era sekarang, dan Mang Pram berani mengkritik kotanya sendiri,” katanya.
Menurutnya, tak banyak wartawan yang mau mendokumentasikan realitas sosial dalam bentuk buku. “Dari sekadar berita harian, Mang Pram naik level dengan menulis buku. Ini karya jurnalistik yang lebih abadi,” tegasnya.
Buku No LC No Party menjadikan diskusi hangat di berbagai kalangan, mengungkap sisi lain Cilegon yang jarang dibahas secara terbuka. Dengan gaya jurnalistiknya yang tajam, Mang Pram berhasil mendokumentasikan realitas sosial dunia malam tanpa sensor, memancing pro dan kontra di tengah masyarakat.
Terlepas dari kontroversinya, buku ini menjadi cerminan bahwa jurnalisme bukan hanya soal berita harian, tetapi juga tentang keberanian mengungkap fakta yang sering disembunyikan.Berani baca?
Editor : Iskandar Nasution
Artikel Terkait