Ternyata Anak Sekolah di Indonesia Lebih Percaya Feeling daripada Fakta Ilmiah
PANDEGLANG, iNewsPandeglang.id – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali menjadi perhatian terhadap kondisi pendidikan Indonesia. Selain menunjukkan kemampuan siswa dalam sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah, hasil PISA kali ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana siswa menilai sebuah informasi.
Influencer sekaligus edukator Jerome Polin menyoroti hasil tersebut melalui unggahannya. Ia menyebut capaian Indonesia masih berada di bawah rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), organisasi internasional yang beranggotakan negara-negara dan bekerja sama dalam bidang ekonomi serta berbagai kebijakan publik, termasuk pendidikan.
Menurut Jerome, persoalan yang menarik bukan hanya mengenai rendahnya skor akademik, tetapi juga bagaimana siswa menentukan apakah sebuah informasi dapat dipercaya. Ia menyoroti indikator yang membandingkan kecenderungan siswa untuk melakukan pengecekan fakta dengan kecenderungan mengandalkan common sense atau penilaian berdasarkan intuisi.
Data PISA 2025 memang menunjukkan bahwa cara siswa memandang bukti ilmiah berkaitan dengan kemampuan mereka dalam bidang sains. OECD menemukan bahwa keyakinan untuk memeriksa informasi dari berbagai sumber terpercaya merupakan salah satu indikator yang paling kuat hubungannya dengan performa sains. Siswa yang memiliki profil ilmiah kuat rata-rata memperoleh skor sains lebih tinggi dibandingkan siswa yang lebih mengandalkan penjelasan intuitif atau common sense.
Dalam laporan OECD, siswa dengan profil “strong scientific” adalah mereka yang setuju bahwa informasi dari satu sumber perlu diperiksa melalui berbagai sumber terpercaya, tetapi tidak setuju bahwa seseorang harus lebih mengandalkan common sense dan mengurangi ketergantungan pada studi ilmiah. Sementara itu, profil “non-restrictive” mencakup siswa yang setuju dengan kedua pernyataan tersebut.
Secara rata-rata di negara-negara OECD, 46,4 persen siswa masuk dalam profil strong scientific. Sebanyak 37,5 persen berada dalam profil non-restrictive, sedangkan 10,9 persen masuk profil non-scientific. Kelompok non-scientific adalah siswa yang cenderung tidak menyetujui pentingnya mengecek informasi dari sumber lain sekaligus lebih menyetujui penggunaan common sense dibandingkan studi ilmiah.
Hal ini menjadi penting di tengah derasnya arus informasi di media sosial. Siswa tidak hanya dituntut mampu menghafal materi pelajaran, tetapi juga harus mampu membedakan informasi yang didukung bukti dengan informasi yang sekadar terdengar masuk akal.
PISA 2025 juga menunjukkan tantangan Indonesia dalam kemampuan akademik. OECD mencatat rata-rata kemampuan siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Hanya sekitar 37 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam sains, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 74 persen. Pada membaca, sekitar 27 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai 69 persen. Untuk matematika, angkanya hanya 17 persen, dibandingkan 65 persen pada rata-rata OECD.
PISA 2025 diikuti lebih dari 760.000 siswa berusia 15 tahun dari 91 negara dan ekonomi. Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti asesmen tersebut.
Karena itu, persoalan pendidikan Indonesia tidak hanya tentang mengejar skor PISA. Tantangan yang lebih besar adalah membangun kebiasaan berpikir kritis: ketika menerima sebuah informasi, siswa perlu bertanya dari mana sumbernya, apakah ada bukti yang mendukung, apakah informasi tersebut dapat dibandingkan dengan sumber lain, dan apakah kesimpulannya masuk akal secara ilmiah.
Di era media sosial dan kecerdasan buatan, kemampuan tersebut semakin penting. Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar. Begitu pula sesuatu yang terasa masuk akal belum tentu didukung oleh fakta.
Hasil PISA 2025 akhirnya menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak cukup hanya membuat siswa mampu menjawab soal. Mereka juga perlu dibiasakan untuk mempertanyakan, memeriksa, membandingkan, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.
Jika kebiasaan tersebut dapat diperkuat sejak sekolah, harapan untuk membangun generasi yang mampu menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045 masih terbuka.
Editor: Iskandar Nasution