get app
inews
Aa Text
Read Next : Heboh! Affan Kurniawan, Driver Ojol Tewas Dilindas Rantis Saat Demo Ricuh, Ini Sosoknya

Mahasiswa Harus Fokus: Masalahnya Ada di DPR, Bukan Polri

Jum'at, 29 Agustus 2025 | 20:17 WIB
header img
H. Pujiyanto, Aktivis Muda Banten. Foto : Dok.Pribadi

H. Pujiyanto Aktivis Muda Banten, Putra Goib

EMPAT hari terakhir, bangsa ini kembali diguncang gelombang besar. Jalanan Senayan bergemuruh oleh suara mahasiswa, spanduk berkibar, orasi menggema, dan aparat berbaris mengawal. Namun dari semua keramaian itu, ada satu tragedi yang menghantam nurani kita bersama: seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas terlindas kendaraan aparat di tengah kericuhan.

Affan bukan aktivis, bukan tokoh, bahkan bukan orang yang mencari panggung. Ia hanyalah anak muda sederhana yang bekerja untuk keluarga. Namun ia pulang dengan tubuh terbujur kaku. Tragedi ini bukan sekadar insiden lalu lintas. Ini adalah tanda bahwa ada yang salah dalam cara negara menjaga rakyatnya.

Sejarah bangsa mengajarkan bahwa mahasiswa selalu menjadi garda depan perubahan. Dari 1966 hingga 1998, dari kampus ke jalan raya, mahasiswa menjadi kekuatan moral yang menekan kekuasaan agar kembali berpihak pada rakyat.

Namun sejarah juga mencatat, setiap kali gelombang besar muncul, selalu ada tangan-tangan yang mencoba menunggangi. Ada elit yang melihat darah mahasiswa sebagai tiket menuju kursi. Ada kelompok yang meniupkan api, bukan untuk menerangi jalan, melainkan untuk membakar persatuan bangsa.

Karena itu saya ingin menegaskan: sasaran pergerakan hari ini harus jelas, yaitu DPR RI. Parlemen adalah rumah rakyat. Kalau rakyat marah, di sanalah mereka harus mengetuk pintu. Kalau mahasiswa menuntut perubahan, di sanalah orasi harus diarahkan.

Polri hanyalah tangan. Kepala dari semua persoalan ini ada di parlemen. Jika DPR bekerja dengan benar, jika mereka mengawasi dengan sungguh-sungguh, tragedi seperti yang menimpa Affan bisa dicegah.

Namun ada hal yang sama pentingnya: jangan biarkan gerakan mahasiswa dipelintir oleh kepentingan sempit. Saya melihat gelagat ada kelompok yang berusaha menunggangi, menjadikan momentum ini batu loncatan politik. Mereka datang dengan spanduk, orasi, provokasi, bahkan narasi manis di media sosial. Padahal tujuan mereka bukan membela rakyat, melainkan meraih kekuasaan.

Bangsa ini pernah hancur oleh adu domba. Musuh bisa punya uang, senjata, bahkan media. Tapi selama mahasiswa dan rakyat bersatu, mereka tak bisa dikalahkan. Persatuan adalah senjata paling ampuh, dan itu hanya bisa dijaga jika tujuan kita lurus: menegakkan keadilan, melindungi rakyat kecil, memastikan kekuasaan berpihak pada bangsa, bukan pada segelintir elit.

Tragedi Affan harus jadi titik balik. Ia tidak boleh sekadar jadi berita satu minggu. Ia harus jadi pengingat bahwa rakyat kecil harus dilindungi, bukan dikorbankan.

Saya menulis ini bukan untuk mencari nama. Saya menulis karena saya tidak rela melihat mahasiswa diperalat, rakyat kecil jadi korban, dan bangsa kembali dipecah. Untuk DPR, dengarlah, karena kalau tidak, sejarah akan melupakan kalian. Untuk aparat, lindungilah rakyat, jangan sampai kalian dianggap musuh.

Dan untuk Affan, percayalah: kematianmu tidak akan sia-sia jika bangsa ini benar-benar belajar. Semoga darahmu menjadi pengingat bahwa perubahan bukan sekadar soal kursi kekuasaan, tetapi soal keberanian menjaga bangsa tetap utuh.

Hari ini, pilihan ada di kita semua: terus bersatu, tetap fokus, dan menolak ditunggangi. Jika itu terjadi, seratus tahun ke depan anak cucu kita akan menulis di buku sejarah: ada masa ketika bangsa ini hampir terpecah, tapi rakyatnya memilih untuk bersatu.

Editor : Iskandar Nasution

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut