Luar Biasa, Christine Hakim Borong Penghargaan di Busan Internasional Film Festival

Dodi C.A
Christine Hakim dalam film Laut Bercerita yang terpilih dalam Busan International Film Festival 2026. (Foto: Dok. Tangkapan layar Instagram @christinehakimofficial)

Ibuku masuk dalam kompetisi utama BIFF 2026.

Sementara itu, Christine Hakim tampil sebagai Ibu Wibisana dalam Laut Bercerita.

Film yang disutradarai Yosep Anggi Noen tersebut diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Ceritanya membawa penonton pada masa Orde Baru, ketika aktivitas mahasiswa dan gerakan politik menghadapi tekanan.

Tokoh Laut, seorang aktivis mahasiswa, mengalami penculikan. Hilangnya Laut kemudian meninggalkan keresahan bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Christine Hakim memerankan sosok ibu yang harus menghadapi kehilangan dan ketidakpastian tersebut. Laut Bercerita juga masuk kompetisi utama BIFF 2026 dan melakukan pemutaran perdana di festival tersebut.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, dalam Empat Musim Pertiwi, Christine Hakim berperan sebagai Mak Ira.

Film garapan Kamila Andini tersebut mengikuti kisah Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun karena membunuh seorang pria yang mencoba memperkosanya.

Namun kepulangan Pertiwi tidak serta-merta disambut dengan hangat. Ia justru berhadapan dengan penolakan dari masyarakat dan keluarganya sendiri.

Dalam situasi tersebut, Mak Ira menjadi salah satu sosok yang menerima kepulangan Pertiwi.

Film ini masuk program A Window on Asian Cinema di BIFF 2026. Di Indonesia, Empat Musim Pertiwi mulai tayang di bioskop pada 8 Oktober 2026.

Bukan Sekadar Tampil di Festival

Kehadiran Christine Hakim di tiga film tersebut memperlihatkan bagaimana seorang aktris senior masih aktif mengambil peran dalam film dengan tema yang beragam.

Ketiga karakternya juga memiliki latar cerita yang berbeda. Dalam Ibuku, ia menjadi seorang ibu yang berusaha mendapatkan kembali kesempatan bertemu anaknya. Dalam Laut Bercerita, ia menghadapi kehilangan seorang anak akibat situasi politik. Sedangkan dalam Empat Musim Pertiwi, ia menjadi sosok yang memberikan penerimaan kepada perempuan yang dikucilkan karena masa lalunya.

Ketiga film tersebut sama-sama membawa persoalan sosial ke layar lebar, mulai dari pekerja migran, hak asasi manusia, kehilangan akibat konflik politik, hingga kekerasan terhadap perempuan.

Editor : Iskandar Nasution

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network