Lebih Sebulan Loyo, Harga Emas Mulai Merangkak Naik

Epul Galih
Emas Antam. Setelah mengalami tren penurunan selama lebih dari satu bulan, harga emas kembali menguat dan diproyeksikan masih berpotensi naik pada pekan depan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNewsPandeglang.id Setelah loyo dan mengalami tren penurunan selama empat pekan berturut-turut, harga emas akhirnya mulai menunjukkan taji pada penutupan perdagangan pekan ini. Di pasar domestik, harga emas Antam pecahan 1 gram resmi bertengger di level Rp2.670.000.

Kenaikan harga logam mulia ini langsung memicu pertanyaan hangat di kalangan investor lokal, apakah momen ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan aksi ambil untung atau justru saat yang pas untuk terus menahan aset.

Melihat berbagai sentimen positif yang berkembang, pengamat mata uang dan komoditas dalam negeri, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas masih berpotensi melanjutkan tren kenaikannya pada pekan depan.

"Kalau seandainya emas dunia itu menguat di resisten kedua itu di 4.348 dolar per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp2.780.000 per gram itu data teknikal," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan redanya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran ikut membawa dampak positif terhadap pergerakan emas. Terbukanya kembali Selat Hormuz berhasil menekan harga minyak mentah dunia yang pada gilirannya diprediksi akan meredam laju inflasi global.

Harga Emas Spot Global Melonjak

Loncatan harga di pasar dalam negeri ini sejalan dengan kondisi pasar spot global. Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot dunia melonjak 1,3 persen ke level US$4.174,21 per ons, sehingga berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 2 persen.

Kenaikan tersebut juga diikuti kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus yang naik 1,5 persen ke posisi US$4.186,80 per ons.

Melonjaknya harga emas global dipicu rilis data ketenagakerjaan non-pertanian (Non-Farm Payroll) Amerika Serikat yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Lapangan kerja bulan lalu hanya bertambah 57.000, jauh lebih rendah dibanding proyeksi ekonom yang mencapai 110.000.

Perlambatan perekrutan tenaga kerja itu menekan nilai dolar Amerika Serikat terhadap mata uang utama lainnya sehingga membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar.

Dampaknya, pelaku pasar langsung mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Data FedWatch Tool milik CME menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 54 persen dari sebelumnya 66 persen sebelum data tenaga kerja dirilis.

Chief Market Analyst Bybit, Han Tan, menilai kondisi tersebut memperbesar peluang bank sentral Amerika Serikat tidak menaikkan suku bunga, bahkan berpotensi mulai menurunkannya. Situasi itu dinilai menjadi bahan bakar bagi harga emas untuk kembali menguat menuju level psikologis baru US$5.000 per troy ons di masa mendatang.

Dampak Singapura dan China Borong Emas

Selain faktor suku bunga dan pelemahan dolar, penguatan emas global juga ditopang aksi pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia.

Mengutip data World Gold Council, bank sentral global secara neto menambah cadangan sebanyak 41 metrik ton emas batangan selama Mei.

China dan Singapura menjadi negara paling agresif. China menambah 10 ton sehingga total cadangannya mencapai 2.331 ton, sedangkan Singapura menambah 4 ton emas.

Secara teknikal, harga emas dunia berpeluang menguji level resisten pertama di US$4.248 per troy ons atau setara sekitar Rp2.690.000 per gram di pasar domestik. Jika reli berlanjut hingga resisten kedua, harga emas dalam negeri diperkirakan bisa menyentuh Rp2.780.000 per gram pada pekan depan.

Sebaliknya, jika terjadi koreksi sentimen negatif, penurunan harga diperkirakan tidak terlalu dalam dan masih bergerak di kisaran Rp2.550.000 hingga Rp2.650.000 per gram.

Pemilik Emas Disarankan Menahan Diri

Dengan potensi penguatan jangka pendek yang masih terbuka, para pemilik emas disarankan menahan diri dan tidak terburu-buru menjual aset mereka, kecuali jika membutuhkan dana tunai dalam kondisi mendesak.

Menahan kepemilikan emas batangan dinilai menjadi langkah investasi yang lebih bijak sambil mencermati perkembangan pasar pada awal pekan depan.

Sebagai acuan transaksi harian sebelum perhitungan komponen pajak, harga emas Antam saat ini dipatok Rp1.385.000 untuk ukuran 0,5 gram, Rp5.280.000 untuk ukuran 2 gram, Rp13.125.000 untuk ukuran 5 gram, Rp26.195.000 untuk pecahan 10 gram, Rp130.645.000 untuk ukuran 50 gram, dan Rp261.212.000 untuk ukuran 100 gram.

Editor : Iskandar Nasution

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network