get app
inews
Aa Text
Read Next : Tak Terbiasa Makan Nasi, Puluhan Pelajar di Pelosok Lebak Alami Alergi

Beda dengan Indonesia, 36 Ribu Guru Singapura Nikmati Kenaikan Gaji Besar

Selasa, 04 Agustus 2026 | 20:41 WIB
header img
Aktivitas belajar mengajar di sekolah. Pemerintah Singapura mengumumkan kenaikan gaji bagi sekitar 36 ribu tenaga pendidik mulai Oktober 2026. (Foto: Ilustrasi/AI)

JAKARTA, iNewsPandeglang.id  - Di saat ribuan guru honorer di Indonesia masih harus berjuang bertahan hidup dengan gaji berkisar puluhan hingga ratusan ribu rupiah per bulan, kabar kontras datang dari negara tetangga. Pemerintah Singapura resmi mengumumkan kenaikan gaji bagi sekitar 36 ribu tenaga pendidik yang mulai berlaku efektif pada 1 Oktober 2026.

Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) menyatakan bahwa besaran kenaikan gaji tersebut bervariasi, mulai dari 2 persen hingga 9 persen. Kebijakan ini akan dinikmati oleh sekitar 33 ribu pegawai pendidikan, 1.700 tenaga pendidik pendukung (allied educators), serta 1.100 guru taman kanak-kanak (TK) di bawah naungan MOE.

"Kami ingin memastikan paket gaji secara keseluruhan tetap kompetitif dan layanan pendidikan dapat terus menarik serta mempertahankan tenaga pendidik yang baik," tulis MOE dalam pernyataan resminya.

Langkah strategis Singapura ini menegaskan komitmen mereka dalam menempatkan profesi pendidik di hierarki teratas pencetak sumber daya manusia unggul. Pemerintah Singapura memahami betul bahwa untuk menghasilkan generasi masa depan yang kuat, kesejahteraan para pengajarnya harus dijamin terlebih dahulu.

Realitas Pahit Guru di Tanah Air

Pemandangan ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan kondisi sejahtera para pendidik di Indonesia. Di tanah air, potret miris nasib guru seolah menjadi wacana klasik yang tak kunjung usai. Meski anggaran pendidikan di APBN dialokasikan sebesar 20 persen, ketimpangan kesejahteraan guru, terutama status honorer dan swasta di daerah terpencil yang masih sangat memprihatinkan.

Tidak sedikit guru di Indonesia yang harus mengabdi belasan hingga puluhan tahun namun tetap menerima honor jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak dari mereka yang terpaksa melakoni pekerjaan sampingan, mulai dari menjadi pengemudi ojek online, berjualan makanan, hingga buruh tani.

Publik Indonesia pada umumnya mempertanyakan, bagaimana mungkin kita menuntut guru melahirkan anak didik yang cerdas dan berkarakter, jika pikiran mereka setiap hari masih terbebani oleh urusan beras dan dapur yang belum ngebul?

Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang lebar dalam dunia pendidikan regional. Singapura memandang investasi pada gaji guru sebagai strategi pembangunan jangka panjang. Sementara itu, Indonesia masih terjebak dalam masalah krusial terkait distribusi anggaran, birokrasi penataan status ketenagakerjaan, serta pengakuan finansial yang layak bagi para pahlawan tanpa tanda jasa.

Pemerintah Indonesia Harus Berkaca dari Pemerintah Singapura

Langkah berani Singapura seharusnya menjadi sentilan keras sekaligus bahan evaluasi mendalam bagi pemerintah Indonesia. Kualitas pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah bisa melampaui kualitas dan kesejahteraan para gurunya.

Jika Indonesia serius ingin mewujudkan visi Indonesia Emas, reformasi kesejahteraan guru harus dijadikan prioritas utama, bukan sekadar janji manis di atas kertas. Tanpa jaminan hidup yang layak, profesi guru di Indonesia akan terus dibayangi ketidakpastian, sementara negara tetangga semakin melaju pesat meninggalkan kita.

Editor : Iskandar Nasution

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut