get app
inews
Aa Text
Read Next : Banyak yang Belum Tahu! Ini Manfaat Dahsyat Ziarah Kubur Sebelum Ramadan

Berani Baca? Buku No LC No Party Bongkar Sisi Gelap Dunia Malam Cilegon Tanpa Sensor!

Kamis, 27 Februari 2025 | 11:32 WIB
header img
Diskusi hangat! Bedah buku No LC No Party karya Mang Pram, mengungkap sisi gelap dunia malam Cilegon dengan berani dan tanpa sensor. (Foto : Istimewa/Iskandar)

CILEGON, iNewsPandeglang.id Sebuah diskusi menarik berlangsung di Cilegon membahas buku No LC No Party, karya jurnalistik Mang Pram, nama pena dari Rahmatullah Safra’i. Buku ini mengupas dunia malam Cilegon secara blak-blakan, tanpa sensor, dan memicu berbagai reaksi dari berbagai kalangan.

Diskusi yang digelar di Kafe Luang Persona ini menghadirkan sejumlah tokoh, seperti Kyai Haji Hafidin, ulama Banten; Ahmad Fauzi Chan, Ketua PWI Cilegon; Ismatullah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon; serta Indra Kusuma, budayawan Cilegon. Mereka membahas isi buku yang dianggap berani ini.

Mang Pram menegaskan bahwa ia menulis berdasarkan pengalaman langsung. Sebagai wartawan, ia merasa perlu melihat sendiri realitas dunia malam sebelum menuangkannya dalam tulisan.

“Saya hadir langsung, melihat bagaimana hiburan malam di Cilegon berjalan,” ujarnya, Rabu (26/2/2025) malam.

Namun, tulisannya sering diperdebatkan, terutama soal penyebutan Cilegon sebagai pusat hiburan malam. Banyak yang berargumen bahwa lokasinya berada di Kabupaten Serang, bukan Cilegon.

“Setiap kali saya menulis tentang JLS (Jalan Lingkar Selatan), selalu ada yang bilang jangan bawa-bawa nama Cilegon,” tambahnya.

Buku No LC No Party mengungkap fakta bahwa di Cilegon, keberadaan LC (Ladies Companion) tidak hanya sebagai pemandu lagu, tetapi juga memiliki peran lain yang lebih kompleks. “LC di sini bukan cuma pemandu lagu,” sindirnya.

Mang Pram juga menyinggung realitas miris bahwa jumlah kamar untuk LC di Cilegon jauh lebih banyak dibandingkan kamar santri. “Kamar santri kalah banyak dibanding kamar LC di Cilegon,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengungkapkan bagaimana aplikasi seperti MiChat membuat praktik prostitusi semakin sulit terdeteksi. “Saya habis Rp900 ribu buat riset di MiChat,” candanya.

Ketua PWI Cilegon, Ahmad Fauzi Chan, menyebut Mang Pram sebagai sosok jurnalis yang unik dan berani. “Kritik sosial itu penting di era sekarang, dan Mang Pram berani mengkritik kotanya sendiri,” katanya.

Menurutnya, tak banyak wartawan yang mau mendokumentasikan realitas sosial dalam bentuk buku. “Dari sekadar berita harian, Mang Pram naik level dengan menulis buku. Ini karya jurnalistik yang lebih abadi,” tegasnya.

Buku No LC No Party  menjadikan diskusi hangat di berbagai kalangan, mengungkap sisi lain Cilegon yang jarang dibahas secara terbuka. Dengan gaya jurnalistiknya yang tajam, Mang Pram berhasil mendokumentasikan realitas sosial dunia malam tanpa sensor, memancing pro dan kontra di tengah masyarakat.

Terlepas dari kontroversinya, buku ini menjadi cerminan bahwa jurnalisme bukan hanya soal berita harian, tetapi juga tentang keberanian mengungkap fakta yang sering disembunyikan.Berani baca?

Editor : Iskandar Nasution

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut